Jakarta · Selasa, 29 September 2026Cari
WargaKonoha

Raksasa Teknologi Terbelah soal AI, Bagaimana dengan Indonesia?

Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) memicu perdebatan di kalangan raksasa teknologi Silicon Valley. Sejumlah pemimpin perusahaan dan peneliti AI, termasuk Jacob Coxon dari Anthropic, meminta pengembangan AI dikendalikan karena risiko superintelligence yang dapat meningkatkan kemampuannya sendiri. CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman mendukung perlambatan pengembangan AI serta audit keamanan oleh pihak ketiga. Demis Hassabis dari DeepMind mengusulkan pembentukan badan standar global untuk mengatur laju pengembangan AI. Di sisi lain, Donald Trump dan Jensen Huang dari Nvidia menolak klaim bahwa AI akan menghancurkan dunia dan mendorong percepatan inovasi tanpa regulasi tambahan. Huang menekankan pentingnya pengujian produk sebelum peluncuran. Di Indonesia, pengamat Heru Sutadi menyatakan bahwa negara tidak perlu memilih antara inovasi dan regulasi. Ia menyoroti risiko jangka pendek seperti penipuan, deepfake, dan manipulasi informasi. Adopsi AI di Indonesia diklaim mencapai 92%, sehingga perlu ditingkatkan regulasi hingga tingkat undang-undang, serta upskilling dan reskilling tenaga kerja seiring target penciptaan 19 juta lapangan kerja baru.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait