S&P Global: Biaya Impor Bengkak, Pengusaha Terpaksa Naikkan Harga Jual
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4867040/original/013625100_1718711480-20240618-Pertumbuhan_Industri_Manufaktur-MER_5.jpg)
Tekanan biaya produksi industri manufaktur Indonesia masih tinggi meski mulai mereda pada Juli 2026. Inflasi biaya input berada di atas rata-rata historis, namun mencatatkan laju kenaikan terendah dalam empat bulan. Harga bahan baku domestik dan impor tetap tinggi, diperparah penguatan dolar AS yang menaikkan biaya impor. Untuk menjaga margin, banyak perusahaan naikkan harga jual ke konsumen. Aktivitas pembelian bahan baku turun lima bulan berturut-turut, sekaligus penurunan persediaan simpanan di gudang sebagai respons terhadap permintaan pasar yang belum pulih. S&P Global mencatat peluang pemulihan sektor manufaktur lebih kuat jika tren inflasi biaya terus mereda.
Bagikan
Berita terkait
Menperin: Industrialisasi Jadi Kunci Prabowo Wujudkan Kemandirian Ekonomi
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 12.00
Menko Pangan Ungkap 17 Provinsi Bakal Tanam Bawang Putih Serentak
Liputan6.com · 15 Agustus 2026 pukul 21.45
Tantangan Ekonomi 2026: Transformasi Manufaktur dan Literasi Finansial Jadi Kunci Pertumbuhan
Media Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 19.15
Indonesia Mulai Penyelidikan Antidumping Produk SAP China
Liputan6.com · 14 Agustus 2026 pukul 17.31