S&P Global: Biaya Impor Bengkak, Pengusaha Terpaksa Naikkan Harga Jual
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4867040/original/013625100_1718711480-20240618-Pertumbuhan_Industri_Manufaktur-MER_5.jpg)
Tekanan biaya produksi industri manufaktur Indonesia masih tinggi meski mulai mereda pada Juli 2026. Inflasi biaya input berada di atas rata-rata historis, namun mencatatkan laju kenaikan terendah dalam empat bulan. Harga bahan baku domestik dan impor tetap tinggi, diperparah penguatan dolar AS yang menaikkan biaya impor. Untuk menjaga margin, banyak perusahaan naikkan harga jual ke konsumen. Aktivitas pembelian bahan baku turun lima bulan berturut-turut, sekaligus penurunan persediaan simpanan di gudang sebagai respons terhadap permintaan pasar yang belum pulih. S&P Global mencatat peluang pemulihan sektor manufaktur lebih kuat jika tren inflasi biaya terus mereda.
Bagikan
Berita terkait
Shell Jadikan Indonesia Basis Produksi Grease, Kapasitas 12.000 Ton Setahun
Warta Ekonomi · 15 September 2026 pukul 16.32
Desakan Anker: Pintu Impor KRL Bekas Jepang Kembali Dibuka
Liputan6.com · 29 September 2026 pukul 10.59
Trump Bakal Bangun Pabrik Baja Terbesar di AS, Investasi Capai US$ 15 Miliar
Liputan6.com · 29 September 2026 pukul 10.30
Kemendag Tegaskan Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Larangan Barang Impor
Liputan6.com · 29 September 2026 pukul 09.20