Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Siasat Salomon: Dari Jalur Berbatu ke Panggung Fashion Week

Salomon, awalnya bengkel peralatan ski di Pegunungan Alpen Prancis (Annecy, 1947), berubah dari tepi baja ski dan sistem pengikat menjadi pelopor sepatu hiking dan trail running pada akhir abad ke-20. Seri Speedcross yang diluncurkan pertengahan tahun 2000-an menjadi titik balik: perancang Ralph F. Brewer menciptakan sepatu lari gunung yang sangat ringan dan protektif dengan daya cengkeram terinspirasi dari ban motocross, profil agresif, dan konstruksi tanpa chassis tradisional. Speedcross 3 (2011) menyempurnakan stabilitas tumit dan bantalan sambil mempertahankan sangkar SensiFit dan PowerBand; pada tahun 2015, lebih dari 20 juta pasang terjual di seluruh dunia. Generasi berikutnya (Speedcross 6) mempertahankan identitas inti sambil mengadopsi material yang lebih ringan dan tapak berbentuk huruf “Y” untuk pelepasan lumpur yang lebih cepat.

Fenomena gorpcore dan kolaborasi strategis dengan rumah mode avant-garde—The Broken Arm, MM6 Maison Margiela, Comme des Garçons, dan Palace Skateboards—mendorong Salomon ke panggung Fashion Week, mengubah sepatu kinerja murni menjadi ikon streetwear dan fesyen mewah. Amer Sports, perusahaan induknya, menerapkan strategi pengembangan produk bermata dua: terus berinovasi untuk atlet profesional sambil menyempurnakan estetika untuk konsumen perkotaan. Perluasan fokus pada Amerika Utara dan Asia, ditambah dengan kemitraan sebagai Mitra Premium Resmi Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin 2026 di Milano Cortina, memperkuat posisi Salomon sebagai merek global yang menggabungkan warisan teknis Alpen dengan gaya hidup modern.

Berita terkait