Jakarta · Selasa, 8 September 2026Cari
WargaKonoha

Tak Patuhi Trump Soal Sanksi Ekonomi Iran, China Bisa Buat AS Murka

Pemerintah China diperkirakan tidak akan mematuhi ancaman sanksi sekunder Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara yang menjadi mitra dagang Iran. Sikap ini berpotensi memicu ketegangan baru antara Washington dan Beijing, bahkan berisiko membuka konflik perdagangan berskala besar. Menurut analis keamanan nasional Alex Plitsas, pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang menyiapkan sanksi tambahan yang ditujukan untuk menekan perekonomian Iran dan mendorong Teheran kembali ke meja perundingan. Namun, ketergantungan tinggi China terhadap pasokan minyak dan gas dari Iran menjadi faktor utama yang mungkin mencegahnya mengikuti sanksi sepihak AS. Jika China menolak sanksi tersebut, hubungan kedua negara berisiko semakin jauh menuju konflik, yang bisa berdampak pada pasokan mineral kritis dari China. Tekanan ekonomi AS telah memberikan dampak signifikan pada perekonomi Iran, termasuk lonjakan inflasi. Meskipun demikian, pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tahankan menyerah dan justru meningkatkan eskalasi, seperti serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Plitsas memperingatkan bahwa Iran mungkin melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah jika sanksi terus ditingkatkan. Di tengah ketegangan ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan kekhawatiran akan ancaman krisis pangan. Namun, keputusan strategis terkait respons Iran lebih dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan para pemimpin keamanan tertinggi, bukan otoritas sipil. Situasi ini membuat rencana peningkatan sanksi AS tidak hanya menambah tekanan pada Teheran, tetapi juga membuka ruang ketegangan baru antara AS dan China.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait