Amerika Serikat Ancam Pembeli Minyak Iran, China Jadi Sorotan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjanjikan sanksi ekonomi terhadap negara yang membeli minyak Iran, dengan China sebagai target utama karena menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran senilai US$3,9-4,2 miliar pada September 2025. China mengimpor sebagian besar minyak Iran untuk mendukung anggaran pemerintah dan kegiatan militer Tehran. Bessent menyebut ancaman ini sebagai 'tembakan peringatan' tanpa mengumumkan sanksi luas. China menolak sanksi, menyatakan tekanan tidak menyelesaikan konflik. Analis menyebutkan China telah mengurangi impor minyak Iran dari 1,4 juta barel/hari menjadi 700.000 barel/hari, sehingga dampak penuh sanksi terbatas. Namun, 38% minyak dan 23% LNG China melewati Selat Hormuz, titik rawan konflik. Situasi sulit diprediksi karena 'armada bayangan' yang menyembunyikan lalu lintas kapal, dan data pelacakan menunjukkan ketidaksesuaian antara klaim AS dan realita di lapangan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 10.25
Pasar Tunggu Sanksi AS ke Iran, Harga Minyak Turun ke US$92,34
SINDOnews · 25 Agustus 2026 pukul 13.30
Tetap Jadi Sekutu Sejati Iran, Sanksi AS kepada China Tak Akan Terwujud
Detik.com · 25 Agustus 2026 pukul 11.22
Ancam Sanksi Baru, AS Bersumpah Cekik Ekonomi Iran
Media Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 09.55
AS Siapkan Sanksi Negara Pembeli Minyak Iran, Tiongkok Melawan
Berita terkait
Harga Minyak Turun USD 2, Investor Ambil Untung di Tengah Sanksi Iran
kumparan · 25 Agustus 2026 pukul 07.22
Peluru Iran Mulai Diarahkan ke Para Sekutu AS, Siapa Bakal Kena?
CNBC Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 16.20
Harga Minyak Turun ke US$93 Jelang Pengumuman Sanksi Baru AS ke Iran
CNN Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 10.08
Iran Tak Akan Biarkan Setetes Pun Minyak Keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz
SINDOnews · 23 Agustus 2026 pukul 23.47