Tambang Nikel RI Mulai Beralih ke Elektrifikasi, Ini Alasannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri pertambangan nikel Indonesia mulai mempertimbangkan elektrifikasi operasional sebagai upaya meningkatkan efisiensi energi dan menekan biaya produksi. Langkah ini sejalan dengan menurunnya kadar bijih nikel yang ditambang, sehingga perusahaan perlu mengolah lebih banyak material untuk memperoleh hasil yang sama. Elektrifikasi diarahkan untuk menggantikan penggunaan peralatan berbasis bahan bakar fosil, namun penerapannya masih dalam tahap eksplorasi dan perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap tambang.
Sekretaris Jenderit Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Rizal Kasli, menekankan pentingnya pengelolaan energi berdasarkan biaya per ton material yang ditangani. Elektrifikasi diharapkan dapat mengurangi konsumsi energi, biaya bahan bakar, dan waktu siklus operasional. Namun, faktor seperti kesiapan infrastruktur, kebutuhan energi, medan tambang, dan investasi peralatan menjadi pertimbangan utama sebelum implementasi lebih luas.
Rizal juga menjelaskan bahwa kadar bijih saprolit telah turun dari 1,8% menjadi sekitar 1,6%, sementara kadar limonit berada di kisaran 1,2% atau di bawahnya. Penurunan ini memperparah tekanan biaya produksi, sehingga inovasi seperti elektrifikasi menjadi relevan untuk menjaga daya saing industri nikel Indonesia di tengah tantangan pasar global.
Bagikan
Berita terkait
4 Bandara InJourney Airport Raih ENSIA 2026 Hasil Program Keberlanjutan
kumparan · 22 September 2026 pukul 14.10
RSUP Sardjito Hemat Biaya Energi 75% Berkat Gas Bumi
Warta Ekonomi · 22 September 2026 pukul 11.00
Harga Batu Bara & CPO Kompak Turun, Nikel dan Timah Naik
kumparan · 22 September 2026 pukul 10.58
Kadar Nikel Makin Rendah, Industri Smelter Indonesia Hadapi Tantangan Baru
JawaPos · 22 September 2026 pukul 08.45