Jakarta · Minggu, 27 September 2026Cari
WargaKonoha

Utang Global Meledak Tersengat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Utang global meningkat US$ 10 triliun pada semester pertama 2026, mencapai US$ 365 triliun atau setara Rp 179.155 triliun. Kenaikan ini meningkatkan risiko biaya bunga bagi pemerintah di berbagai negara. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa guncangan ekonomi global mendorong utang naik cepat dan menyarankan pemerintah menurunkan tingkat utang serta menjadikan konsolidasi fiskal sebagai prioritas. Ia juga menekankan pentingnya bank sentral menjaga stabilitas harga.

Institute of International Finance (IIF) melaporkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah di negara ekonomi besar seperti AS, Jepang, Prancis, dan Inggris mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Empat negara tersebut menghadapi defisit besar dan biaya bunga meningkat. Pada 2025, negara-negara maju membayar lebih dari US$ 3,3 triliun bunga atas obligasi internasional, melebihi belanja global untuk kecerdasan buatan (US$ 2,6 triliun), pertahanan (US$ 3,1 triliun), dan energi bersih (US$ 2,3 triliun).

OECD menilai kenaikan imbal hasil obligasi menunjukkan perlunya pemerintah memperkuat pengelolaan fiskal melalui reformasi. Saran OECD termasuk menekan dan mengalokasikan kembali belanja, meningkatkan efisiensi sektor publik, dan memperkuat penerimaan negara untuk menjaga keberlanjutan utang jangka panjang.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait