Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Warga Beralih ke Pertalite, Bahlil Hitung Potensi Kelebihan Kuota Subsidi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pemerintah masih menghitung potensi kelebihan penyaluran Pertalite pada 2026 akibat fenomena migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Lonjakan konsumsi ini dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi yang menyusul kenaikan harga minyak dunia. Pada Juli 2026, rata-rata konsumsi Pertalite mencapai 85.589 kiloliter per hari, naik 12% dibanding periode sebelumnya. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan, disparitas harga yang lebar antara BBM subsidi dan non-subsidi menjadi faktor utama masyarakat beralih ke Pertalite. Harga Pertalite tetap dijaga di Rp10.000 per liter, sementara Pertamax naik ke Rp16.250, Pertamax Green Rp17.000, dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter sejak 10 Juni 2026.

Bahlil menegaskan komitmen pemerintah menjaga harga Pertalite tidak dinaikkan hingga Desember 2026, sementara harga BBM non-subsidi disesuaikan dengan mekanisme pasar. Lonjakan konsumsi Pertalite tercatat di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Meski beberapa provinsi melebihi alokasi rata-rata harian, BPH Migas memastikan stok nasional tetap aman dan kuota yang tersedia masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Pemerintah terus memantau dinamika global terkait kenaikan harga minyak dan dampaknya pada konsumsi BBM. BPH Migas akan terus menghitung potensi oversupply Pertalite untuk memastikan kebijakan subsidi tetap efisien dan tidak memberikan beban berlebih pada negara.

Peristiwa ini diliput 3 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait