Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AI dan Data Center Sambar Investasi di Malaysia dan Indonesia, Fokus pada Infrastruktur dan Daya Tarik Kawasan

Malaysia dan Indonesia sedang bersaing untuk menarik investasi data center berbasis AI. Malaysia mengembangkan kawasan data center di Johor dengan lahan 5,6 km², menyerap investasi dari AS, Tiongkok, dan Eropa, serta membutuhkan listrik 1.700 MW per Agustus 2026. Pemerintah Malaysia menyebut pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% pada 2025, meski pembangunan ini tidak menghasilkan banyak lapangan kerja.

Di Indonesia, Menteri Koordinator Airlangga Hartarto menyatakan kapasitas pipeline data center mencapai 1,17 GW, dengan proyeksi AI menambah nilai perekonomian global US$15,7 triliun pada 2030. Pemerintah berencana membuka investasi AI senilai US$8–12 miliar pada 2026–2030, didukung digitalisasi sektor pertanian dan energi.

Pengelola kawasan industri seperti PT Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) menadaptasi diri dengan mengintegrasikan infrastruktur kritis seperti listrik, air, dan fiber optik sejak perencanaan. BEST mengembangkan BeFa Digital Town melalui kerja sama dengan PLN dan IGN, menekankan bahwa lahan luas dan lokasi strategis saja tidak cukup; kepastian pasokan listrik dan konektivitas digital menjadi faktor utama. Tantangan utama adalah memastikan kapasitas daya dapat disalurkan andal dan dikembangkan sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan tenant.

Menurut tiap media