Jakarta · Selasa, 6 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

AI Mempercepat dan Memperluas Skala Kejahatan Siber, Peringatan Interpol

Menurut Interpol, kecerdasan buatan (AI) mempercepat dan memperluas skala kejahatan siber dengan memanfaatkan teknik yang sudah ada. Penipu dapat menggunakan AI untuk menargetkan banyak korban sekaligus, sementara terjemahan canggih dan identitas digital membuatnya sulit membedakan interaksi penipuan dengan asli. Bjorn R. Watne, Global Chief Information Security Officer Interpol, menekankan bahwa ini adalah evolusi bukan revolusi. Ia menyarankan perusahaan mengidentifikasi aset krusial, memahami siapa yang berpotensi menyerang, serta memanfaatkan intelijen ancaman untuk menyesuaikan pertahanan. Penting untuk memilih sistem keamanan sesuai jenis ancaman, apakah oportunis atau persisten. Watne juga memperlihatkan kekhawatiran terhadap agentic AI yang dapat bertindak otonom, terutama pada perangkat seperti kendaraan otonom, di mana kepercayaan masyarakat terhadap teknologi lebih tinggi daripada layanan keuaranan. Kesalahan AI yang menjalankan tindakan fisik dapat berisiko besar. Interpol menyatakan AI memperkuat penipuan dan kejahatan digital dengan membuat aksi kejahatan lebih cepat dan berskala besar. Penipu dapat memanfaatkan AI untuk menargetkan banyak korban, menerjemahkan bahasa, dan membuat identitas digital yang sulit dibedakan. Indonesia menjadi incaran global karena kemampuan AI memperluas jangkauan kejahatan siber. Watne menekankan bahwa AI bukan revolusi tapi evolusi teknik kejahatan yang sudah ada. Ia meminta perusahaan untuk mengidentifikasi aset paling penting (crown jewels) dan menyesuaikan pertahanan siber dengan informasi ancaman. Masalah utama adalah strategi keamanan belum terhubung dengan manajemen senior, sekaligus banyak perusahaan belum menyadari hampir semua adalah perusahaan teknologi. Ancaman lain adalah agentic AI yang dapat mengambil tindakan fisik, dengan risiko cedera manusia jika terjadi kesalahan. Pengguna cenderung terlalu percaya pada teknologi seperti mobil otonom tanpa wawasan risiko yang cukup.

Menurut tiap media