Jakarta · Selasa, 6 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

AWS dan Google Kembangkan Data Center AI, AWS Hadapi Penolakan Warga, Google Uji di Luar Angkasa

Amazon Web Services (AWS) mengumumkan investasi lebih dari USD 1 miliar (sekitar Rp 17,8 triliun) selama lima tahun untuk mendukung komunitas di sekitar pusat datanya di Amerika Serikat, sebagai respons terhadap kritik terkait penggunaan listrik dan air yang meningkat. AWS menekankan pentingnya pusat data untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI). Namun, warga setempat menolak pembangunan tersebut karena dampak seperti kenaikan tagihan listrik, berkurangnya pasokan air, dan polusi udah. Pimpinan AWS, Matt Garman, menuduh penolak sebagai penyebar informasi palsu yang didalangi pihak asing, sementara dokumen internal mengungkap penyembunyian data konsumsi air oleh Amazon.

Di sisi lain, Google sedang menguji kemampuan data center AI di luar angkasa melalui Project Suncatcher. Satelit prototipe yang diluncurkan menggunakan roket SpaceX membawa Tensor Processing Unit (TPU) untuk menguji performa chip AI di kondisi ekstraremal seperti radiasi dan suhu ekstrem. Google berencana membangun jaringan data center orbital dengan ribuan satelit yang saling terhubung, didukung oleh energi surya yang diperkirakan hingga delapan kali lebih besar dibandingkan di Bumi. Proyek ini menghadapi tantangan seperti biaya tinggi, paparan radiasi kosmik, dan masalah pendinginan. Google memperkirakan biaya hingga USD 30 miliar (Rp500 triliun) untuk membangun pusat data berkapasitas 1 gigawatt di orbit.

Selain itu, Google juga menghadapi kritik di Finlandia terkait proyek data center AI senilai USD 15 miliar. Aktivitas penebangan hutan seluas 300 hektare menuai protes dari Asosiasi Konservasi Alam Finlandia, yang meminta penilaian dampak lingkungan selesai sebelum pembangunan dilanjutkan. Google menyatakan bahwa penebangan sudah memenuhi regulasi yang berlaku dan telah menyelesaikan evaluasi lingkungan.

Menurut tiap media