Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Berakhirnya Gencatan Senjata 60 Hari AS-Iran dan Desakan Negosiasi Damai

Gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir, memicu kekhawatiran akan dimulainya kembali konflik bersenjata. Mantan penjabat direktur Kantor Urusan Iran di Departemen Luar Negeri AS, Joey Hood, menyatakan bahwa kedua negara sedang dalam fase persiapan militer, bukan langkah menuju perdamaian. Ia menilai nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu dirancang buruk dan ditakdirkan gagal, terutama karena Iran klaim kedaulatan atas Selat Hormuz. Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan hambatan utama adalah posisi masing-masing pihak yang belum selaras.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak AS dan Iran untuk segera melanjutkan negosiasi menuju penyelesaian damai dan berkelanjutan. Guterres meminta kedua belah pihak menurunkan retorika dan mencegah dimulainya kembali aksi militer, sesuai dengan berakhirnya periode negosiasi berdasarkan Kesepakatan Iran. Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang dicapai pada 18 Juni tidak lagi berlaku.

Sejak itu, militer AS telah melakukan beberapa serangan terhadap Iran, yang diklaim sebagai respons terhadap tindakan Iran di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah dan menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata. Perbedaan perspektif mencolok antara analisis Hood yang pesimis dan desakan Guterres untuk diplomasi, menunjukkan jalan terjal menuju penyelesaian damai.

Menurut tiap media