Jakarta · Selasa, 25 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

BMKG Peringatann Kekeringan Akibat El Nino dan IOD, Musim Kemarau Lebih Kering

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat (indeks Nino3.4 +2,99 pada Dasarian II Agustus 2026) bertahan hingga awal 2027, sementara Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif berlangsung hingga Oktober 2026. Kombinasi keduanya memicu musim kemarau yang lebih kering di Indonesia, dengan 90,29% wilayah mengalami curah hujan rendah (88,91% di bawah normal). Hingga Dasarian II Agustus 2026, 79,9% Zona Musim di Indonesia masuk musim kemarau, termasuk Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. BMKG mencatat titik-titik dengan hari tanpa hujan (HTH) ekstrem panjang hingga 110 hari di Pajangan, Bantul, serta ribuan titik dengan HTH panjang di seluruh wilayah.

Perbedaan prakiraan El Nino muncul antara media: BMKG NTT memprediksi bertahan hingga akhir 2027, sementara prediksi umum BMKG hingga awal 2027. Status awas kekeringan meteorologis ditetapkan di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) mulai 21 Agustus hingga 31 Agustus 2026, berdasarkan HTH lebih dari 50 hari di Stasiun Kertajati dan Jatiwangi. Di NTT, risiko kekeringan dan karhutla meningkat akibat kombinasi kemarau panjang, angin timuran, Monsun Australia aktif, serta IOD positif.

Menurut tiap media