Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

Erupsi Anak Krakatau 5-6 Sep 2020: BMKG Pantau Sebaran Abu Vulkanik, 7 Bandara Ditutup

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5-6 September 2020 melepaskan abu vulkanik yang tersebar luas akibat terbawa angin. BMKG mendeteksi dua lapisan abu: lapisan rendah hingga ketinggian 4,57 km (15.000 kaki) dan lapisan tinggi hingga 15,24 km (50.000 kaki), keduanya bergerak ke arah barat daya–barat. Akibatnya, 7 bandara di pesisir Barat Jawa tetap ditutup hingga Senin 7 September 2020. Penutupan ini didasarkan pada prakiraan atmosfer BMKG yang menunjukkan polygon potensi dampak abu masih melingkupi wilayah Lampung, Banten, Jakarta, Tangerang, dan Bogor, meski arah angin tidak mengarah ke pulau Jawa. BMKG juga melaporkan status "No Change (NC)".

BMKG menyatakan sebaran abu vulkanik belum memasuki wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah. Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid Hakim, menyampaikan bahwa hasil pemantauan secara visual melalui paper test dan citra satelit menunjukkan belum adanya indikasi abu vulkanik di wilayah Semarang. Hal ini menjawab isu yang beredar di media sosial mengenai adanya material erupsi yang mengandung sulfur dioksida (SO2) tersebar di Ibu Kota Jawa Tengah.

Pada pembaruan terbaru, BMKG tidak lagi mencantumkan Jakarta sebagai wilayah yang terdampak abu vulkanik. Berdasarkan citra satelit Himawari-9, sebaran abu teridentifikasi pada dua lapisan ketinggian dengan arah yang berbeda. Lapisan rendah (permukaan hingga 4,57 km) bergerak ke arah barat daya-barat laut, meliputi Banten bagian barat, Lampung, Bengkulu, dan Samudra Hindia. Lapisan tinggi (permukaan hingga 15,24 km) bergerak ke arah barat daya-barat, mencakup Samudra Hindia di sebelah barat-barat daya Banten, Lampung, dan Bengkulu, berpotensi mempengaruhi penerbangan. Abu vulkanik terdeteksi menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau dan bergerak menjauh dari wilayah Indonesia.

Menurut tiap media