Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Hasto PDIP Peringati Bahaya Populisme Otoriter, Dorong Pelembanaan Demokrasi

Sekretaris PDIP Hasto Kristiyanto dalam pembukaan CALD Conference di Yogyakarta memperingati bahaya populisme otoriter yang berkembang di berbagai negara. Ia menyatakan populisme otoriter biasanya memanfaatkan bahasa rakyat untuk memperoleh dukungan, namun pada prakteknya melemahkan institusi demokrasi, menekan kebebasan pers, dan menjauhkan penegakan hukum dari keadilan. Hasto menilai Pemilu 2024 di Indonesia sebagai puncak kemenangan populisme otoriter yang dibangun sejak periode kedua Jokowi, dengan pelanggaran norma demokrasi, penghilangan masyarakat sipil, dan kemunduran demokrasi (backsliding). Ia mengutip pemikiran Levitsky dan Ziblatt dalam buku 'How Democracies Die', menyatakan bahwa kemunduran demokrasi terjadi ketika partai gagal menjadi penjaga gerbang demokrasi, sehingga kekuasaan terkonsentrasi dan tersandera kepentingan oligarki.

Hasto juga menyampaikan video tentang konsep Avant-Garde Party Institutionalization yang menekankan pelembanaan sistemik agar partai memiliki organisasi stabil, berakar pada ideologi, dan bertahan di atas ketergantungan pada figur individu. Ia mengungkapkan lima agenda strategis PDIP untuk memperkuat demokrasi: (1) Strategi Seluruh Lapisan Masyarakat yang menekankan partisipasi warga negara bebas dan aman; (2) Supremasi Hukum untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan; (3) Pelembanaan Partai Politik secara Substansial termasuk kaderisasi, politik berbasis kebijakan, integritas finansial, dan mekanisme suksesi; (4) Fasilitasi Pemikiran Kritis dan penguatan masyarakat sipil; (5) Demokrasi di Sektor Politik dan Ekonomi yang mewujudkan tata kelola ekonomi inklusif. Ditekankan pentingnya partai kembali menjadi instrumen kedaulatan rakyat demi membangun demokrasi yang matang dan sehat.

Menurut tiap media