Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan AS untuk Kembangkan Energi Hidrogen
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Indonesia akan menjajaki kerja sama pengembangan hidrogen dengan perusahaan asal Amerika Serikat, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kerja sama ini bertujuan memanfaatkan teknologi unggul AS dan potensi hidrogen yang melimpah di Indonesia. Menurut data PT PLN, Indonesia memiliki surplus hidrogen sebesar 125 ton per tahun, karena hanya menggunakan 75 ton dari total 200 ton yang diproduksi setiap tahun. Kementerian ESDM mencatat terdapat 93 proyek inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen dengan nilai investasi mencapai Rp 32 triliun. Proyek-proyek ini mendukung konsep dedieselisasi, termasuk penerapan PLTS di wilayah terpencil dengan hidrogen sebagai penyimpanan energi. Contoh nyata termasuk proyek di Pulau Rengit dan Sumba yang sudah bekerja sama dengan PLN. CNBC Indonesia melaporkan bahwa biaya listrik diperkirakan turun dari Rp20.000/kWh (US$1/kWh) menjadi Rp6.250/kWh (US$0,25/kWh). Sementara itu, JawaPos menyebutkan proyek di Pulau Rengit tanpa menyertakan perkiraan biaya listrik. Indonesia juga membangun kerja sama dengan Norwegia, Jepang, dan Prancis dalam teknologi energi terbarukan. Potensi air untuk industri hidrogen mencapai 21 GW di Mamberamo, Papua, dan 14 GW di Sungai Kayan. Dengan pemanfaatan sumber daya domestik, pemerintah bertarget mencapai swasembana energi serta mengurangi ketergantungan pada pasokan asing.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
JawaPos
Surplus Hidrogen capai 125 Ton per Tahun, Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan AS
2 Oktober 2026 pukul 17.00 · Baca aslinya ↗
CNBC Indonesia
RI Bakal Gaet Perusahaan AS untuk Garap Hidrogen
2 Oktober 2026 pukul 18.15 · Baca aslinya ↗