Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Inklusi Keuangan Syariah Indonesia Rendah, OJK Soroti Gap Pasar dan Literasi

Indeks inklusi keuangan syariah Indonesia mencapai 13,24 persen pada 2026, jauh di bawah sektor konvensional yang mencapai 93,53 persen, menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis oleh OJK, LPS, dan BPS. Indeks literasi keuangan syariah mencapai 43,07 persen, menunjukkan kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan penggunaan produk syariah. Dibandingkan dengan literasi konvensional sebesar 69,57 persen, keuangan syariah masih perlu ditingkatkan.

OJK juga melaporkan pangsa pasar keuangan syariah sebesar 11,24 persen pada Juni 2026, meskipun 87 persen penduduk Indonesia Muslim. Total aset keuangan syariah mencapai Rp 3.264 triliun dengan pertumbuhan tahunan 9,82 persen. Industri terdiri dari perbankan syariah (Rp 1.075 triliun), pasar modal syariah (terbesar), dan IKNB syariah (Rp 158 triliun).

Presiden Direktur Prudential Syariah Iskandar Ezzahuddin menekankan pentingnya inovasi dan edukasi untuk meningkatkan akses produk syariah. Program literasi dan inklusi yang melibatkan lebih dari 240 ribu individu hingga kuartal III 2026 dilaksanakan melalui kolaborasi dengan organisasi Muslim, universitas, dan komunitas di berbagai wilayah. Sorotan OJK pada rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk syariah menjadi tantangan utama untuk mengembangkan pasar yang berpotensi besar ini.

Menurut tiap media