Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Kadar Nikel RI Menurun, Smelter dan Hilirisasi Nikel Di Tengah Tantangan

Industri nikel Indonesia menghadapi tantangan penurunan kadar bijih nikel, yang mempengaruhi efisiensi produksi smelter. Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Rizal Kasli mencatat kadar bijih saprolit turun dari 1,8% menjadi sekitar 1,6%, sementara bijih limonit yang diolah dengan hidrometalurgi berada di kisaran 1,2% atau lebih rendah. Penurunan kualitas ini mendorong pentingnya efisiensi dalam penambangan dan pengolahan, termasuk penggunaan alat berat, pengangkutan material, konsumsi bahan bakar, dan pemeliharaan peralatan.

Untuk mengatasi tantangan ini, pelaku industri perlu mengoptimalkan pengendalian payload, konsumsi bahan bakar, waktu siklus, kondisi jalan, dan penerapan predictive maintenance guna menekan biaya operasional. Dari sisi pengolahan, saprolit dengan kadar lebih tinggi biasanya diproses melalui pirometalurgi seperti rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk menghasilkan nickel pig iron (NPI) dan feronikel. Sementara limonit olahan dengan hidrometalurgi seperti high pressure acid leach (HPAL) mendukung pasokan bahan baku untuk baterai.

Rizal mencatat terdapat 415 izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Indonesia, dengan 384 di antaranya berstatus operasi produksi. Sementara itu, jumlah fasilitas pengolahan yang terdata mencapai 79 fasilitas. Penurunan kadar nikel ini menuntut inovasi dan adaptasi teknologi agar industri tetap kompetitif di tengah permintaan yang terus meningkat, terutama dari sektor baterai.

Menurut tiap media