Bijih Nikel RI Makin Rendah Kadarnya, Industri Smelter Hadapi Tantangan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri nikel Indonesia menghadapi tantangan penurunan kadar bijih nikel yang berdampak pada efisiensi produksi smelter. Sekretaris Jenderal APNI, Rizal Kasli, mencatat kadar bijih saprolit turun dari 1,8% menjadi 1,6%, sementara bijih limonit berada di kisaran 1,2% atau lebih rendah. Penurunan kualitas ini memaksa industri untuk lebih cermat dalam mengelola biaya operasional dan energi per ton material yang diproses.
Untuk menjaga keberlanjutan hilirisasi, perusahaan perlu mengoptimalkan penggunaan alat berat, konsumsi bahan bakar, dan menerapkan predictive maintenance. Saat ini terdapat 384 IUP nikel berstatus operasi produksi dan 79 fasilitas pengolahan. Penggunaan teknologi seperti pirometalurgi (RKEF) untuk saprolit dan hidrometalurgi (HPAL) untuk limonit tetap menjadi kunci dalam memenuhi rantai pasok logam serta baterai kendaraan listrik.
Bagikan
Berita terkait
Keruk Nikel 13 Juta Ton Hasilkan PNBP Rp21 Triliun
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 20.54
PNBP Nikel Capai Rp21 Triliun per Agustus 2026, Naik Dua Kali Lipat
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 20.10
RESSED UI Dorong Optimalisasi Cadangan dan Hilirisasi Tambang
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 13.36
10 Saran Ahli untuk Kembangkan Hilirisasi Emas RI
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 08.02