Jakarta · Senin, 7 September 2026Cari
WargaKonoha

Kemungkinan Penurunan Peran Selat Hormuz dan Persiapan China terhadap Krisis Energi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memrediksi Selat Hormuz akan kehilangan peran pentingnya dalam dua tahu ke depan akibat pengalihan ke jaringan pipa darat, dengan data EIA menunjukkan impor minyak mentah AS dari Teluk Persia turun drastis menjadi 7% dari total impor. Lonjakan produksi domestik AS dan pasokan dari Kanada menjadi faktor utama penurunan ketergantungan, sementara IEA mencatat bahwa 34% minyak mentah dunia masih melintasi Selat Hormuz pada 2025. Konflik militer Iran yang membatasi lalu lintas kapal sejak awal 2026 telah mendorong harga minyak Brent naik dari USD72,48 menjadi di atas USD95 per barel.

China dianggap lebih siap menghadapi krisis energi akibat potensi gangguan di Selat Hormuz, didukung oleh cadangan minyak yang dimiliki dan kerja sama energi dengan Rusia. Kepala Eksekutif Rosneft Igor Sechin menyatakan China memiliki waktu lebih lama untuk mencari sumber pasokan alternatif, sementara hubungan energi dengan Rusia semakin kuat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. China diperkirakan akan menyumbang lebih dari 60 persen ekspor gas Rusia pada akhir dekade ini, menjadikannya pasar utama bagi energi Rusia.

Menurut tiap media