Selat Hormuz Tak Akan Lagi Berharga dalam 2 Tahun, Gertakan AS atau Babak Baru Energi Global?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memprediksi Selat Hormuz akan kehilangan peran pentingnya dalam dua tahun ke depan akibat pengalihan ke jaringan pipa darat. Prediksi ini disampaikan di KTT Menteri Keuangan G20 di North Carolina. Menurut Bessent, ketergantungan dunia pada jalur ini akan berkurang seiring masuknya alternatif transportasi minyak yang lebih efisien melalui pipa. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan impor minyak mentah AS dari negara-negara Teluk Persia telah turun drastis ke level terendah dalam 40 tahun, hanya sebesar 7% dari total impor minyak AS. Lonjakan produksi domestik dan pasokan dari Kanada menjadi faktor utama penurunan ketergantungan tersebut. Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa sekitar 34% minyak mentah dunia masih melintasi Selat Hormuz pada 2025, dengan mayoritas arah ke pasar Asia. Konflik militer Iran yang membatasi lalu lintas kapal sejak awal 2026 telah mendorong harga minyak Brent naik dari USD72,48 menjadi di atas USD95 per barel.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Media Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.06
Pejabat Amerika Sebut Sebut Penghancuran Nuklir Iran Jadi Opsi
Media Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.06
Pejabat Amerika Sebut Penghancuran Nuklir Iran Jadi Opsi
Berita terkait
Selat Hormuz Makin Horor, Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Terparah Sepanjang Juli
SINDOnews · 1 Agustus 2026 pukul 14.55
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Lalu Usul Namanya Jadi 'Selat Trump'
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 07.28
Harga Solar AS Meroket Dekati Rekor Tertinggi
Liputan6.com · 2 September 2026 pukul 18.00
Menkeu AS: China Keberatan Soal Ekspor Murah Tak Berkelanjutan
Liputan6.com · 2 September 2026 pukul 16.35