Selat Hormuz Memanas Lagi, China Disebut Sudah 'Santai'
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

China dianggap lebih siap menghadapi krisis energi akibat potensi gangguan di Selat Hormuz dibandingkan negara lain. Menurut Igor Sechin, Kepala Eksekutif Rosneft, kemampuan ini didukung oleh cadangan minyak yang dimiliki China dan kerja sama energi yang erat dengan Rusia. Selat Hormuz merupakan jalur kritis untuk perdagangan energi global, sehingga gangguan di sana dapat memengaruhi pasokan minyak dan gas ke banyak negara, terutama di Asia yang bergantung pada impor energi. Dengan cadangan minyak yang cukup, China memiliki waktu lebih lama untuk mencari sumber pasokan alternatif. Hubungan energi dengan Rusia juga semakin kuat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 dan sanksi yang diterapkan oleh negara Barat. China diperkirakan akan menyumbang lebih dari 60 persen ekspor gas Rusia pada akhir dekade ini, menjadikannya pasar utama bagi energi Rusia. Kombinasi ini memberi Beijing keuntungan strategis dalam menjaga ketersediaan energi meski terjadi gangguan di jalur global.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 17.34
Selat Hormuz Tak Akan Lagi Berharga dalam 2 Tahun, Gertakan AS atau Babak Baru Energi Global?
Media Indonesia · 7 September 2026 pukul 21.53
Tiga Dampak Permanen Perang AS-Iran terhadap Ekonomi Global
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 19.50
Update Terbaru Selat Hormuz, Pelayaran Makin Anjlok ke Level Terendah
Media Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.06
Pejabat Amerika Sebut Sebut Penghancuran Nuklir Iran Jadi Opsi
Berita terkait
Trump "Tendang" China-Rusia, AS Kuasai Ladang Minyak Strategis di Sini
CNBC Indonesia · 1 September 2026 pukul 14.25
AS Susah Payah Hancurkan Iran, Rusia dan China Makin Solid
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 21.29
Pejabat Amerika Sebut Penghancuran Nuklir Iran Jadi Opsi
Media Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.06
Indonesia Sodorkan Penawaran 138 Blok Migas ke Rusia
SINDOnews · 4 September 2026 pukul 21.47