Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ketegangan Geopolitik Picu Kenaikan Yield Obligasi AS dan Harga Minyak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah Iran menyita kapal tanker minyak di Selat Hormuz dan Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengebom Oman jika menghalangi upaya damai dengan Iran. Hal ini mendorong kenaikan harga minyak Brent dan kekhawatiran di pasar global.

Imbal hasil obligasi AS melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Yield obligasi 30 tahun mencapai 5,31%-5,321% (CNBC Indonesia menyebut 5,31% tertinggi dalam 19 tahun, Liputan6.com mencatat 5,321% tertinggi dalam dua dekade), sedangkan yield 10 tahun naik ke 4,724%-4,725%. Harga minyak Brent naik sekitar US$91 per barel, dengan Liputan6.com mencatat US$91,20 dan CNBC Indonesia menyebut sekitar US$91.

Pasar saham bereaksi negatif, dengan indeks seperti S&P 500 turun 0,2%-0,5%, Nikkei 225 anjlok 1,6%, dan Dow Jones turun 0,5%. Di sisi lain, saham produsen chip dan perusahaan AI menguat, termasuk SpaceX yang naik 4,4%. Investor juga mencermati data ekonomi lemah, termasuk penjualan ritel China yang hanya tumbuh 0,6% pada Juli di bawah ekspektasi, serta laporan ritel AS dari Target dan Walmart.

Menurut tiap media