Jakarta · Selasa, 8 September 2026Cari
WargaKonoha

Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak di Timur Tengah

Mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta memprediksi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran akan berlanjut selama enam bulan ke depan, setelah rencana gencatan senyawa gagal dan negosiasi damai terhenti sejak Juni 2026. Panetta, mantan Kepala CIA dan Menteri Pertahanan di era Obama, memperingatkan bahwa perang ini berisiko menjadi konflik jangka panjang di Timur Tengah dan menyoroti ketegangan internal di Pentagon yang menurutnya melemahkan citra AS di mata internasional. Di sisi lain, US Central Command melaporkan telah menyerang tiga kapal tanker Iran pada 5 September 2026, setelah Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan rudal balistik ke dua kapal angkatan laut AS. Komandan Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa setiap serangan AS akan mendapatkan respons yang lebih cepat dan lebih keras. Meski Iran mencoba memblokade Selat Hormuz, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan aliran minyak tetap berjalan dengan kapasitas lebih dari 9 juta barel per hari.

Ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah tetap tinggi, sebagaimana diakui oleh Komisioner OJK. Lonjakan harga minyak dunia tercatat, dengan Brent mencapai US$97 per barel pada 7 September 2026. Beberapa negara termasuk Korea Selatan dan AS sedang menilai strategi alternatif untuk mengamankan pasokan minyak, termasuk proyek pipa di Suriah yang didukung oleh Donald Trump. Analis ANZ, Daniel Hynes, proyeksikan pasokan Teluk mungkin terganggu hingga akhir 2026 dengan pemulihan penuh pada KI-KII 2027. Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak akhir 2026 sebesar US$5 per barel.

Perbedaan melaporkan nilai harga minyak Brent: Media Indonesia menyebutkan harga sebesar US$97 per barel pada 7 September 2026, sementara Warta Ekonomi melaporkan harga US$97,34 per barel untuk Brent dan US$92,63 untuk WTI pada 8 September 2026. Kedua sumber juga berbeda dalam penyebutan tanggal referensi harga: Media Indonesia merujuk pada tanggal 7 September 2026, sementara Warta Ekonomi menyebutkan tanggal 8 September 2026.

Menurut tiap media