Jakarta · Kamis, 17 September 2026Cari
WargaKonoha

Model AI Canggih Otomatisasi Serangan Siber, 89% Perusahaan Indonesia Belum Siap

Menurut laporan Ensign Cyber Threat Landscape Report 2026, 89% perusahaan di Indonesia belum siap menghadapi serangan siber. Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, menjelaskan bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) yang cepat oleh pelaku serangan menjadi faktor utama meningkatnya kompleksitas ancaman. Dalam pengujian, 10 model AI berhasil mendapatkan akses awal ke jaringan universitas yang dikendalikan, dan 90% di antaranya berhasil mencapai data sensitif. AI memungkinkan serangan dilakukan lebih cepat dan variatif, sementara banyak organisasi belum tahu cara menghadapi ancaman tersebut.

Laporan Ensign InfoSecurity juga mengungkapkan bahwa model AI canggih mampu menjalankan berbagai tahapan serangan siber secara otomatis, sehingga menurunkan biaya, waktu, dan keahlian teknis yang dibutuhkan. Dari 10 model AI yang diuji, tiga model unggul yaitu GPT-5.6 Sol (OpenAI), Claude Opus 4.8 (Anthropic), dan GLM 5.2 (Z.AI), masing-masing mencapai tingkat keberhasilan tinggi pada tujuh dari delapan tujuan serangan. Model GLM 5.2 menunjukkan performa serupa dengan GPT-5.6 tetapi dengan biaya operasional hanya seperlima, menandakan tren penurunan kesenjangan kemampuan antar-model AI global. Model AI berhasil mendapatkan akses awal di lingkungan terkontrol, namun keandalan menurun saat bergerak lebih jauh ke dalam jaringan organisasi. Setidaknya separuh dari model mengalami kesulitan mencuri kredensial dan berpindah antar-sistem, sementara tidak ada model yang berhasil menghindari deteksi EDR secara signifikan.

Di Indonesia, BSSN mencatat 5,5 miliar serangan siber pada 2025, tujuh kali lipat dibanding rata-rata 2020-2024. Kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp7,5 triliun. Suryo Pratomo, Country Head Indonesia Ensign InfoSecurity, menambahkan bahwa pertumbuhan ekosistem digital perusahaan memperluas serangan permuka (attack surface), menciptakan lebih banyak titik masuk bagi penyerang. Celah keamanan dasar seperti penggunaan kata sandi yang mudah ditebak masih menjadi masalah. Penyerang juga memanfaatkan sistem yang terhubung ke internet dengan kerentanan yang belum diperbarui, seperti website, firewall, dan VPN. Data yang berhasil diakses dapat diperjualbelikan di dark web melalui perantara yang disebut initial access broker. Faktor manusia tetap menjadi kelemahan terbesar dalam pertahanan siber. Pengguna perlu waspada terhadap pesan, tautan, atau komunikasi digital yang tampak meyakinkan namun berpotensi menjadi serangan. Pelatihan kesadaran keamanan siber bagi karyawan menjadi penting untuk mengurangi risiko yang disebabkan oleh kesalahan manusia. Organisasi perlu memperkuat kontrol identitas, segmentasi jaringan, dan pemantauan perilaku untuk menghambat penyebaran serangan pasca akses awal.

Menurut tiap media