NASA dan ESA Kumpulkan Data Matahari dari Jarak Dekat, Jelaskan Kegelapan Luar Angkasa
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Misi Solar Orbiter dari ESA dan NASA berhasil merekam aktivitas dinamis di korona Matahari dari jarak dekat. Rekaman tersebut menunjukkan fenomena unik berupa struktur menyerupai "lumut" dan "hujan" korona. Hujan ini terjadi saat plasma mendingin dari suhu 1 juta derajat Celcius menjadi sekitar 10.000 derajat Celcius, lalu jatuh kembali karena gravitasi. Pengamatan dilakukan pada September dan Oktober 2023, di mana Solar Orbiter mencapai jarak 43 juta km dari Matahari. Data ini dikumpulkan melalui kolaborasi dengan wahana Parker milik NASA yang berada pada jarak 7,26 juta km. Kerja sama kedua lembaga ini memberikan data penting mengenai mekanisme kerja Matahari.
Di sisi lain, NASA menjelaskan mengapa luar angkasa tampak gelap meski ada Matahari dan bintang. Menurut penjelasan, luar angkasa hampir tidak memiliki atmosfer untuk menyebarkan cahaya Matahari dan bintang. Di Bumi, cahaya menabrak gas atmosfer dan menyebar, membuat langit terang. Di luar angkasa, cahaya bergerak lurus tanpa medium yang memantulkan. Radiasi Matahari di atmosfer Bumi disebutkan sekitar 1.368 watt per meter persegi, setara dengan 23 lampu 60 watt per meter persegi. Kegelapan luar angkasa bukan karena kurangnya cahaya, melainkan kurangnya hamburan cahaya dan usia alam semesta.
Perbedaan klaim antar media tidak ditemukan dalam kedua laporan tersebut.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
CNBC Indonesia
NASA Bagikan Wujud Matahari dari Jarak Dekat, Ada Fenomena Tak Terduga
19 Agustus 2026 pukul 09.30 · Baca aslinya ↗
Media Indonesia
Mengapa Luar Angkasa Gelap meski Ada Matahari dan Bintang? Ini Penjelasan NASA
19 Agustus 2026 pukul 21.35 · Baca aslinya ↗