Jakarta · Rabu, 19 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

NASA dan ESA Kumpulkan Data Matahari dari Jarak Dekat, Jelaskan Kegelapan Luar Angkasa

Misi Solar Orbiter dari ESA dan NASA berhasil merekam aktivitas dinamis di korona Matahari dari jarak dekat. Rekaman tersebut menunjukkan fenomena unik berupa struktur menyerupai "lumut" dan "hujan" korona. Hujan ini terjadi saat plasma mendingin dari suhu 1 juta derajat Celcius menjadi sekitar 10.000 derajat Celcius, lalu jatuh kembali karena gravitasi. Pengamatan dilakukan pada September dan Oktober 2023, di mana Solar Orbiter mencapai jarak 43 juta km dari Matahari. Data ini dikumpulkan melalui kolaborasi dengan wahana Parker milik NASA yang berada pada jarak 7,26 juta km. Kerja sama kedua lembaga ini memberikan data penting mengenai mekanisme kerja Matahari.

Di sisi lain, NASA menjelaskan mengapa luar angkasa tampak gelap meski ada Matahari dan bintang. Menurut penjelasan, luar angkasa hampir tidak memiliki atmosfer untuk menyebarkan cahaya Matahari dan bintang. Di Bumi, cahaya menabrak gas atmosfer dan menyebar, membuat langit terang. Di luar angkasa, cahaya bergerak lurus tanpa medium yang memantulkan. Radiasi Matahari di atmosfer Bumi disebutkan sekitar 1.368 watt per meter persegi, setara dengan 23 lampu 60 watt per meter persegi. Kegelapan luar angkasa bukan karena kurangnya cahaya, melainkan kurangnya hamburan cahaya dan usia alam semesta.

Perbedaan klaim antar media tidak ditemukan dalam kedua laporan tersebut.

Menurut tiap media