Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Pembangunan Tol dan Transformasi Daya Saing Ekonomi di Era AI

Pemerintah terus mengembangkan jalan tol di berbagai wilayah untuk meningkatkan konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, yang ditargetkan mencapai 8 persen. Menurut pengamat Agus Pambagio, jalan tol tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai kunci penting untuk efisiensi logistik, peningkatan investasi, dan pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi. Agus menekankan bahwa pembangunan jalan tol harus berkelanjutan, dengan melibatkan sektor swasta, kepastian kebijakan, tarif yang proporsional, serta pemeliharaan dan standar pelayanan yang konsisten. Data Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) menunjukkan bahwa dari 54% BUJT yang mengoperasikan jalan tol, sebagian besar mengalami profitabilitas negatif, sementara hanya 9% yang mencatatkan keuntungan positif.

Di sisi lain, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi dan investasi global. Menurutnya, Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan upah buruh murah sebagai magnet utama untuk mendatangkan investasi. Pada masa sebelumnya, biaya tenaga kerja menjadi pertimbangan utama dalam menarik industri manufaktur, namun kini faktor seperti chip, ketersediaan listrik, pusat data, komputasi, dan talenta digital semakin menentukan. Luhut menjelaskan bahwa perubahan ini menuntut strategi pembangunan yang bergeser dari fokus pada jumlah tenara kerja ke peningkatan produktivitas.

Luhut memaparkan bahwa rantai nilai AI terdiri dari lima lapisan: semikonduktor dan manufaktur, energi dan pusat data, komputasi dan cloud, model dan data, hingga adopsi dan difusi AI. Indonesia tidak perlu menguasai seluruh rantai nilai tersebut, tetapi perlu memilih bagian yang sesuai dengan keunggulan dan potensi ekonomi besar. Salah satu bidang yang dapat dikembangkan adalah pusat data berbasis energi hijau, dengan memanfaatkan potensi PLTA di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 8 gigawatt.

Menurut tiap media