Jakarta · Jumat, 28 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pemerintah Rencana Ganti PLTS 100 GW untuk Kurangi Impor Solar dan Subsidi APBN

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memperkenalkan program pembangunan PLTS 100 GWp yang diproyeksikan menghemat APBN dari subsidi solar serta menurunkan impor BBM. Program ini menggantikan 12,6 GW pembangkit listrik berbahan solar, mengurangi kebutuhan minyak sebesar 230.000-250.000 barel per hari. Dengan investasi US$73 miliar, PLTS 100 GWp diproyeksikan menciptakan 5,52 juta lapangan kerja dan mengurangi emisi 140 juta ton CO2 per tahun. Di Bali, PLTS 1.000 MWp dengan baterai penyimpanan akan menghemat konsumsi solar 0,6 juta kiloliter. Pemerintah akan memprioritaskan skema IPP dengan harga kompetitif dan menggunakan APBN bila diperlukan. Program Mandatori B50 oleh Pertamina diproyeksikan mengurangi impor solar 18 juta kiloliter pada 2026, setara 310 ribu barel per hari, sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah Indonesia menargetkan mengurangi impor solar dengan mengganti pembangkit listrik berbahan bakar diesel menjadi energi terbarukan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kapasitas pembangkit listrik berbasis solar di Indonesia masih mencapai 12,6 GW. Program PLTS 100 GW dengan kapasitas 100 GW akan diterapkan selama tiga tahun untuk mengonversi pembangkit diesel menjadi sumber energi terbarukan seperti angin dan surya. Contoh implementasinya terlihat di Bangka Belitung dan Bali, di mana PLN telah mengubah pembangkit diesel dengan memadukan energi angin dan surya. Program ini diproyeksikan menghemat APBN dari subsidi solar dan mengurangi impor BBM, khususnya solar. Bali akan menerima PLTS berkapasitas 1.000 MW yang dapat mengurangi pemakaian solar sekitar 0,6 juta kiloliter. Total investasi program sebesar 73 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.140 triliun.

Menurut tiap media