Pemerintah Siapkan Implementasi Bioetanol 20% dengan Ketergantungan pada Ketersediaan Bahan Baku
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan penerapan mandatori campuran bioetanol 20% (E20) dalam bahan baku minyak (BBM). Implementasi E20 masih bergantung pada kesiapan bahan baku (feedstock) dan persiapan teknis. Untuk sektor non-PSO, diperlukan sekitar 20-40 pabrik bioetanol dengan kapasitas minimum 40.000 kiloliter per tahun. Pemerintah juga sedang menyiapkan tiga Harga Indeks Pasar (HIP) untuk bioetanol berdasarkan bahan baku molasses, singkong, dan jagung.
Target penerapan E20 berbeda antara media: Media Indonesia menyebut 2029, sementara kumparan menyebut 2028. Untuk E10 pada 2027, diperlukan pasokan etanol dalam negeri 1,2 juta KL per tahun, namun kapasitas produksi saat ini hanya 70.500 KL. Presiden Prabowo Subianto menargetkan E10 pada 2027 dan E20 pada 2028 dengan pembangunan 30 pabrik bioetanol baru.
Selain itu, pemerintah membutuhkan Rp135 triliun untuk 14 proyek PLTS tahap awal dengan kapasitas total 5,3 GWp, dengan target program 100 GWp selesai dalam 2-3 tahun. Upaya konversi 6 juta unit motor konvensional menjadi motor listrik diprogreskan hingga 2030. Ketidakpastian geopolitik global dapat menyebabkan lonjakan subsidi energi hingga Rp300 triliun jika pengembangan EBT tidak diakselerasi.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Media Indonesia
E20 Mau Diterapkan, Tapi Feedstock Masih Dicari
2 September 2026 pukul 19.57 · Baca aslinya ↗
kumparan
Kementerian ESDM Mulai Kajian Teknis Bioetanol 20%, Bahas Harga hingga Volume
3 September 2026 pukul 13.52 · Baca aslinya ↗