Pemerintah Targetkan Investasi Hilirisasi Rp3,800 Triliun, Ekspor Rumput Laut Ke China Masih Didominasi Bahan Baku Kering
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan investasi hilirisasi mencapai Rp3.800 triliun dalam empat tahun ke depan, dengan alokasi ke 28 komoditas di delapan sektor termasuk perkebunan, pertanian, kehutanan, perikanan, dan energi terbarukan. Investasi sebesar US$618 miliar diproyeksikan meningkatkan ekspor hingga US$857 miliar dan nilai tambah sekitar US$235,9 miliar. Saat ini ekspor Indonesia mendekati US$500 miliar, sehingga hilirisasi berpotensi menggandakan angka tersebut. Nikel menjadi contoh keberhasilan, dengan ekspor naik dari US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025. Investasi di luar Jawa mencapai 75,7%, mendukung pembangunan di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi seperti AI, machine learning, IoT, dan otomatisasi untuk meningkatkan produktivitas industri.
Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hampir 70 persen ekspor rumput laut Indonesia ke China masih berupa rumput laut kering, menunjukkan peluang besar untuk hilirisasi domestik. Pada 2025, produksi rumput laut mencapai 11,6 juta ton, naik 18,27 persen dari tahun sebelumnya, dengan rata-rata produksi periode 2020-2025 sekitar 9,86 juta ton per tahun. Ekspor rumput laut Indonesia pada 2025 mencapai 242 ribu ton dengan nilai USD 315 juta, dengan China sebagai pasar utama yang dominasi rumput laut kering.
Rumput laut menyumbang sekitar 42 persen dari total produksi perikanan nasional dan melibatkan lebih dari 200 ribu pembudidaya, mendukung lebih dari 1 juta penduduk. Indonesia memiliki sekitar 1.000 spesies rumput laut, meski hanya enam jenis yang dibudidayakan komersial. Produksi didominasi oleh Kappaphycus alvarezii (62,58 persen), Eucheuma denticulatum (20,78 persen), dan Gracilaria (16,62 persen). Meskipun Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dan eksportir utama Eucheuma dan Gracilaria, sebagian besar ekspor masih berupa bahan baku kering. Pengolahan hanya sebagian kecil menjadi produk turunan primer seperti karagenan, agar, dan alginat. Pengembangan produk turunan sekunder untuk industri farmasi, kosmetik, dan bioplastik masih belum optimal. KKP menghadapi tantangan seperti kualitas bibit, fluktuasi harga, logistik, pembiayaan, dan tata kelola lingkungan. Untuk mengatasi hal ini, KKP menyiapkan rencana aksi pengembangan rumput laut dari hulu ke hilir.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Warta Ekonomi
Airlangga Bidik Investasi Hilirisasi Rp3.800 Triliun dalam 4 Tahun
6 Oktober 2026 pukul 12.37 · Baca aslinya ↗
kumparan
Hampir 70 Persen Ekspor Rumput Laut ke China Masih Berupa Rumput Laut Kering
7 Oktober 2026 pukul 03.00 · Baca aslinya ↗