Jakarta · Sabtu, 22 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Perubahan Doktrin Militer Iran Pasca-Konflik dengan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran berada dalam posisi lebih kuat dan saatnya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat. Iran menuduh AS menyerang infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit, sekaligus mempertahankan penutupan di Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut ancaman sanksi baru dari Washington, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan sekutu dan China untuk mendukung isolasi ekonomi terhadap Iran dengan ancaman konsekuensi berat bagi yang tidak ikut. Separuh energi China bergantung dari Teluk, sehingga diingatkan akan dampak sanksi. Bessent menegaskan tujuan melemahkan pengaruh Iran melalui jaringan proksinya.

Sedangkan JPNN.com melaporkan Iran mengubah doktrin militer dari defensif menjadi ofensif, mencakup operasi pencegahan, respons segera, dan serangan besar terhadap agresi musuh. Perubahan ini terjadi setelah pertukaran serangan Februari-Juni. Pada Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik, namun pada Juli, Presiden AS Donald Trump membatalkan gencatan senjata dan melakukan serangan terhadap Iran, diikuti balasan penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.

Menurut tiap media