Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Spekulasi Duet Gibran-KDM 2029 Mencuat, Dedi Mulyadi Fokuskan diri pada Gubernur

Spekulasi mengenai kemungkinan duet Gibran Rakabuming Raka dan Dedi Mulyadi (KDM) sebagai calon presiden dan wakil presiden 2029 kembali muncul di permukaan. Isu ini mencuat setelah pengamat Muhammad Said Didu membagikan unggahan akun X @LambeSahamjja yang membahas kemungkinan kombinasi ini, menyatakan bahwa komunikasi antara Presiden Joko Widodo dan Dedi Mulyadi semakin intens. Said Didu menyampaikan pesan "Makin jelas Gibran-KDM" dalam akun X-nya. Beberapa analis politik juga menilai KDM memiliki modal elektoral kuat dan menarik bagi PSI, namun Dedi Mulyadi sendiri telah membantah kabar bergabung dengan PSI dan menegaskan bahwa dirinya masih menjadi bagian dari Partai Gerindra.

Berbeda dengan spekulasi tersebut, Dedi Mulyadi menyatakan sikap santain terhadap rumor pencalonannya. Dalam wawancara di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (22/9/2026), Dedi menegaskan belum memiliki rencana politik untuk Pilpres 2029 dan lebih ingin fokus pada pekerjaannya sebagai gubernur. "Lagi mikir bagaimana jadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain," katanya. Ia menjelaskan belum ada keputusan terkait keinginan maju dalam pemilihan presiden 2029 dan hanya ingin memimpin Jawa Barat serta merealisasikan program-program kerja yang sudah dijanjikan.

Beberapa survei menunjukkan perbedaan signifikan dalam elektabilitas para tokoh. Hasil survei Tempo Data Science (31 Juli-11 Agustus 2026) menempatkan Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 42 persen, sementara Prabowo Subianto hanya 15 persen. Survei ini dilakukan terhadap 1.260 responden di 38 provinsi. Namun, hasil survei Media Survei Nasional (Median) yang dipublikasikan pada 1 September 2026 menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 19,8 persen, sementara Gibran hanya 2 persen. Dalam simulasi terbuka calon presiden, Prabowo Subianto unggul dengan 32,2 persen, diikuti Dedi Mulyadi (19,8 persen), Anies Baswedan (19,5 persen), dan Gibran (2 persen). Pegiat politik Arif Wicaksono menilai Dedi Mulyadi tidak perlu memanfaatkan nama Gibran untuk meningkatkan elektabilitasnya, justru Gibran yang akan mendapatkan keuntungan dari gandengan dengan Dedi.

Menurut tiap media