Surplus Beras 2026 Tidak Menjamin Harga Stabil di Seluruh Indonesia
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Surplus produksi beras nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai 3,67 juta ton dengan produksi 34,77 juta ton dan kebutuhan 31,10 juta ton. Namun, surplus ini tidak otomatis menjamin harga beras tetap terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Menurut pengamat pertanian CORE Eliza Mardian, distribusi beras tidak merata, terutama ke daerah terpencil dan pulau-pulau kecil, sehingga harga di wilayah tersebut bisa melonjak hingga Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram, jauh di atas rata-rata nasional sebesar Rp 16.500 per kilogram.
Kementerian Pertanian telah mengoptimalkan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 5,2 juta ton melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menghadapi ancaman El Nino. Meskipun demikian, keterbatasan infrastruktur logistik dan distribusi di wilayah seperti Maluku, Papua, dan Kabupaten Jayawijaya masih menjadi kendala utama. Akibatnya, harga beras di wilayah tersebut mencapai Rp 23.500 per kilogram, menunjukkan kesenjangan yang signifikan dengan harga di pusat.
Tantangan distribusi juga mempengaruhi komoditas pangan lain. Kenaikan harga cabai merah hingga Rp 40.000 per kilogram di Sumatera Utara mengindikasikan bahwa masalah logistik dan aksesibilitas wilayah masih menjadi faktor kritis dalam mencapai ketahanan pangan yang inklusif di seluruh Indonesia.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
JPNN.com
Surplus Beras Tidak Menjamin Harga Menjadi Terjangkau
25 Agustus 2026 pukul 08.47 · Baca aslinya ↗
Media Indonesia
Surplus Nasional tidak Jamin Turunkan Harga Beras
25 Agustus 2026 pukul 17.24 · Baca aslinya ↗