Tekanan Struktural Rupiah: Butuh Orientasi Ekspor untuk Penguatan Mata Uang
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Rupiah diproyeksikan tetap lemah hingga lima tahun ke depan, tidak hanya karena kebijakan moneter Bank Indonesia, melainkan masalah struktural ekonomi nasional. Menurut ekonom senior Didik J. Rachbini, pasar domestik yang belum kuat dan ketergantungan pada konsumsi dalam negeri membuat nilai tukar tidak mampu bertahan stabil. Instrumen suku bunga saja tidak cukup; kenaikan suku bunga dapat menarik modal asing namun menaikkan biaya kredit, sementara penurunan suku bunga berisiko pelarian modal ke aset dolar AS.
Penguatan rupiah memerlukan pergeseran kebijakan ekonomi ke ekspor untuk menghasilkan devisa melimpah. Cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$145,3 miliar, jauh di bawah Singapura (US$426,2 miliar) dan Thailand (US$279,2 miliar). Ketergantungan pada ekspor komoditas mentan seperti batu bara, CPO, dan nikel membuat penerimaan negara rentan fluktuasi harga global. Sistem ekonomi harus berorientasi keluar (outward looking) dengan meningkatkan transaksi bisnis yang memperoleh pendapatan dari luar negeri agar nilai tukar rupiah stabil dan kuat.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Liputan6.com
Bukan Cuma Urusan BI, Ini Penyebab Rupiah Sulit Menguat
30 Agustus 2026 pukul 20.00 · Baca aslinya ↗
ANTARA News
Ekonom: Orientasi ekonomi RI harus "outward looking" agar rupiah kuat
30 Agustus 2026 pukul 22.56 · Baca aslinya ↗