Jakarta · Minggu, 20 September 2026Cari
WargaKonoha

Fed Naikkan Suku Bunga, Dampak pada Obligasi RI dan Fluktuasi Rupiah

The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026, menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan ini menghadapi proyeksi yang berbeda: pasar memperkirakan lebih dari satu kenaikan tambahan hingga akhir 2027, sementara Fed hanya memproyeksikan satu kenaikan lagi pada 2026. Kenaikan ini memicu repricing pada global bond Pemerintah Indonesia, dengan Wamenkeu Juda Agung menyatakan dampaknya masih berada pada level wajar. Pemerintah tetap menjalankan penerbitan Panda Bond di pasar China sebagai bagian dari diversifikasi sumber pembiayaan.

Pasar rupiah mengalami fluktuasi, mulai dari Rp17.712 (JISDOR) hingga Rp17.743 pada perdagangan Jumat, dipengaruhi tekanan dari kenaikan suku bunga Fed dan penurunan harga minyak. Penurunan minyak Brent ke US$103,77 dan WTI ke US$100,88 per barel menjadi faktor pendukung penguatan rupiah awal perdagangan. Namun, ketidakpastian global tetap ada, termasuk tekanan dari sikap hawkish Fed yang diproyeksikan suku bunga naik hingga 4,25% akhir 2026, serta isu konflik Timur Tengah yang meredam setelah menemukan alternatif pasokan minyak.

Anggota DPR seperti Amin Ak meminta Bank Indonesia tidak meniru kenaikan Fed secara otomatis, melainkan menunggu keputusan pada RDG 22-23 September 2026. Sementara itu, investor asing melakukan net sell Rp430,21 miliar, menyoroti ketidakpastian pasar modal pasca kenaikan suku bunga.

Menurut tiap media