Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau di DMZ

Tiga tentara Korea Selatan terluka, termasuk satu yang kehilangan kaki, akibat ledakan dua ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 21 September 2024. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menduga ranjau berasal dari Korea Utara dan menyebut insiden sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata Perang Korea 1953. Tim penyelidik Korsel menemukan ranjau antipersonel plastik milik Korea Utara yang belum meledak di lokasi kejadian.

Korea Selatan menuntut permintaan maaf dari Korea Utara atas ledakan tersebut. Menteri Pertahanan Kang Shin-chul menyatakan tindakan balasan yang setimpal akan diambil. Namun, Korea Utara membantah tuduhan, menyebut klaim Seoul tidak berdasar dan merupakan upaya memperanggut ketegangan. Kim Yo Jong menuduh Korsel merekayasa klaim untuk tujuan politik dan militer serta membantah adanya penyeludruan lintas perbatasan untuk memasang ranjau.

Kedua Korea masih dalam status perang karena konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Sejak 2024, Kim Jong Un menyebut Korea Selatan sebagai 'musuh utama', dan militer Korut dikabarkan memasang ranjau serta membangun penghalang antiranjau untuk memperkuat perbatasan.

Menurut tiap media