Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Trump Ganti Nama AI Jadi Super Intelligence dan Rencana Bentuk Lembaga AI Baru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perubahan nama resmi dari 'artificial intelligence' menjadi 'Super Intelligence' dalam dokumen federal AS. Perubahan ini berdasarkan jajak pendapat di media sosial Truth Social, di mana 65% pendukung memilih 'Super Intelligence' dibandingkan 35% untuk 'Superior Intelligence'. Trump mengklaim istilah 'artificial intelligence' tidak tepat dan tidak enak didengar, mengikuti pola perganti nama seperti Teluk Meksiko yang kini disebut Teluk Amerika.

Namun, langkah ini mendapat kritik dari akademisi dan ilmuwan teknologi yang menegaskan 'superintelligence' memiliki makna khusus yakni sistem yang mampu melampaui kemampuan manusia di hampir semua bidang, yang belum tercapai oleh model AI saat ini. Para pakar khawatir penyebutan ini memicu ketakutan publik dan tidak akan menyelesaikan kekhawatirannya. Di sisi lain, Trump berencana membentuk lembaga koordinasi kebijakan AI di Gedung Putih dengan Jay Clayton sebagai calon 'AI czar' untuk mengelola peluang serta ancaman teknologi AI.

Riset Goldman Sachs memperkirakan pengeluaran global untuk AI akan melebihi $1 triliun. Meski demikian, para ilmuwan menyatakan sebagian besar AI saat ini bukan superintelligence, melainkan bentuk kecerdasan yang berbeda dari manusia. Pemerintah China tetap menggunakan istilah 'AI' dan belum mengikuti langkah serupa Trump.

Menurut tiap media