Jakarta · Jumat, 2 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Tepatkah Trump Ganti Nama AI Jadi <i>Super Intelligence</i>?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perubahan nama resmi dari 'artificial intelligence' (AI) menjadi 'Super Intelligence' (SI) dalam dokumen federal AS, setelah melakukan jajak pendapat di media sosial miliknya di Truth Social. Seperti biasanya, Trump mengganti nama berbagai hal, seperti Teluk Meksiko yang kini disebut Teluk Amerika. Dalam jajak pendapat tersebut, sekitar 65% pendukungnya memilih 'Super Intelligence' dibandingkan 'Superior Intelligence' dengan 35% sisanya. Trump mengklaim istilah 'artificial intelligence' tidak tepat dan tidak enak didengar. Namun, langkah ini mendapat kritik dari kalangan akademisi dan ilmuwan teknologi. Mereka menegaskan bahwa 'superintelligence' memiliki makna khusus dalam bidang AI, yakni sistem yang mampu melampaui kemampuan manusia di hampir semua bidang, yang belum tercapai oleh model AI saat ini. Para pakar khawatir penyebutan ini justru memicu ketakutan publik bahwa AI akan menggantikan peran manusia atau menjadi tidak terkendali.

Beberapa pengamat pasar mencatat bahwa perubahan nama ini bisa menjadi strategi pemasaran bagi perusahaan teknologi AS untuk menekankan keunggulan mereka. Riset Goldman Sachs memperkirakan pengeluaran global untuk AI akan melebihi $1 triliun. Meski demikian, para ilmuwan seperti Pedro Domingos dari University of Washington menyatakan bahwa sebagian besar AI saat ini bukanlah superintelligence, melainkan bentuk kecerdasan yang berbeda dari manusia. Mereka juga menyoroti bahwa istilah 'artificial intelligence' sudah digunakan selama 70 tahun dan menggantinya tidak akan menyelesaikan kekhawatir publik terkait risiko AI. Di sisi lain, teknologi AI masih dalam proses pengembangan menuju sistem yang dapat memperbaiki kemampuan sendiri secara rekursif (RSI), yang diperkirakan membutuhkan waktu puluhan tahap lagi untuk terwujud secara penuh.

Pemerintah AS telah mulai menerapkan penggunaan istilah 'Super Intelligence' melalui perintah eksekutif yang ditandatangani Trump. Namun, banyak pakar meragukan apakah istilah baru ini akan benar-benar menggantikan istilah 'AI' yang sudah umum dipakai. Mereka memperkirakan bahwa sebagian besar penggemar AI justru akan semakin sering menggunakan istilah aslinya sebagai bentuk penolakan terhadap perubahan yang dilakukan Trump. Sementara itu, pemerintah China tetap menggunakan istilah 'AI' dan belum menunjukkan minat untuk mengikuti langkah serupa.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait