Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

6.000 CEO Ungkap Fakta Tak Terduga, AI Ternyata Tak Berguna

Riset National Bureau of Economic Research (NBER) terhadap hampir 6.000 eksekutif di AS, Inggris, Jerman, dan Australia menunjukkan AI belum memberi dampak signifikan bagi bisnis. Lebih dari 80% responden tidak mendeteksi pengaruh jelas AI terhadap ketenagakerjaan maupun produktivitas. Sebanyak 90% manajer menyatakan AI tidak memengaruhi jumlah tenaga kerja dalam tiga tahun terakhir, sementara 89% mengklaim tidak ada perubahan produktivitas signifikan jika diukur dari penjualan per karyawan.

Adopsi AI memang masif: 69% perusahaan sudah menggunakannya, terutama untuk pembuatan teks via LLM, konten visual, dan pemrosesan data machine learning. Namun dampak nyata masih terbatas. NBER memproyeksikan AI berpotensi mengurangi 1,75 juta pekerjaan di empat negara tersebut pada 2028, sementara eksekutif memperkirakan kenaikan produktivitas hanya 1,4% dalam tiga tahun ke depan. Karyawan justru lebih optimis, memprediksi AI menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Temuan ini sejajar dengan survei lain: PwC mencatat lebih dari separuh dari 4.500 pemimpin bisnis tidak melihat peningkatan pendapatan atau penurunan biaya pasca-adopsi AI; Deloitte menemukan hanya 20% dari 74% organisasi yang ingin AI mendongkrak pendapatan benar-benar merasakannya; uji coba Microsoft M365 Copilot di departemen pemerintah Inggris tidak menemukan peningkatan produktivitas keseluruhan. Bahkan eksekutif Microsoft AI mengakui kesulitan menunjukkan ROI. Di sisi lain, proyeksi agresif tetap muncul, seperti klaim Kepala Microsoft AI bahwa sebagian besar pekerjaan berbasis komputer akan terotomatisasi dalam 12-18 bulan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait