Ahli Jerman Ungkap Kesalahan Soal Danau Toba yang Sudah Lama Dipercaya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Peneliti dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, mengungkapkan dampak letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu tidak sebesar yang diperkirakan. Melalui analisis lapisan sedimen tahunan di Danau Chala (perbatasan Kenya-Tanzania), tim menemukan bukti mikroskopis abu Toba dan mencatat respons diatom. Hasilnya menunjukkan pendinginan regional hanya sekitar 0,5 derajat Celsius dan berlangsung sekitar 18 bulan, jauh lebih singkat dan lemah dari skenario 'musim dingin vulkanik' yang selama ini dipercaya mengancam kelangsungan hidup nenek moyang manusia. Letusan diperkirakan terjadi pada Januari atau Februari. Peneliti menegaskan bahwa perubahan iklim alami saat itu (tren mendung dan kering di Afrika Timur) jauh lebih signifikan dibanding dampak Toba. Studi ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan satu lokasi (sinyal regional), sehingga diperlukan penelitian serupa di tempat lain yang memiliki endapan abu Toba. Metode yang sama direncanakan untuk dipakai mempelajari supervulkan lain seperti Los Chocoyos (Guatemala) dan Oruanui (Selandia Baru).
Bagikan
Berita terkait
Jejak Konsumsi Obat Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi, Berusia 25.000 Tahun
Liputan6.com · 14 September 2026 pukul 16.00
Jejak Obat Psikoaktif Tertua Dunia Ditemukan di Sulawesi
CNN Indonesia · 12 September 2026 pukul 08.30
Teori Manusia Nyaris Punah Akibat Letusan Raksasa Toba
Detik.com · 10 September 2026 pukul 07.00
Manusia Bawa Macan Tutul di Punggung Kemudian Ditunggangi
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 20.20