Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Anak Krakatau Tumbuh Tak Simetris, Data 100 Tahun Jadi Petunjuk Masa Depan

Anak Krakatau tumbuh tidak simetris sejak awal karena kondisi geologi dasar laut tempatnya berdiri. Di sisi timur laut, dasar laut lebih dangkal sehingga material erupsi menumpuk lebih cepat, sementara di sisi barat daya, pertumbuhan lebih lambat karena perairan lebih dalam. Pola pertumbuhan ini berlangsung selama hampir 100 tahun dan menjadi petunjuk bagi ilmuwan memahami perkembangan masa depan gunung api ini. Prof. Sebastian Watt menjelaskan bahwa ketidaksimetrian awal ini memengaruhi akumulasi lava dan kemiringan kawah, yang pada akhirnya berkontribusi pada ketidakstabilan yang menyebabkan keruntuhan besar pada 2018. Setelah runtuh, sisi barat daya kehilangan banyak material lalu tumbuh kembali dengan cepat. Data historis juga menunjukkan bahwa laju pertumbuhan relatif stabil hingga sekitar 1960, kemudian melambat, menandakan lebih banyak magma tersimpan di kerak dan kurang mencapai permukaan. Keruntuhan 2018 mengubah pola ini secara drastis, dengan laju erupsi meningkat tajam sebelum mulai melambat. Ilmuwan menggunakan peta, foto, citra satelit, dan drone untuk merekonstruksi perubahan bentuk pulau dari waktu ke waktu. Rekam jejak panjang ini memungkinkan membandingkan aktivitas saat ini dengan fase pertumbuhan sebelumnya, serta menggabungkan data dengan informasi kimia dan tekstur material vulkanik untuk memantau kondisi magma. Namun, Watt menegaskan bahwa data masa lalu tidak memberikan ramalan pasti, tetapi menjadi dasar untuk menafsirkan perubahan yang terjadi dan memprediksi kemungkinan evolusi Anak Krakatau di masa depan.

Berita terkait