Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Banyak Perusahaan Indonesia Sudah Pakai AI, Tapi Belum Punya Strategi

Perusahaan di Indonesia termasuk yang paling agresif dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI), dengan sekitar 40% organisasi sudah menggunakan teknologi ini. Namun, di balik tingginya adopsi, hanya 24% yang memiliki strategi AI formal, dan sekitar 21% yang menerapkan tata kelola data (data governance). Menurut Nandini Ramani, Vice President Governance and Compliance AWS, kondisi ini menjadi tantangan karena AI kini sudah menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar proyek teknologi. Tanpa fondasi tata kelola, data governance, dan keamanan yang solid sejak awal, kecepatan adopsi AI justru dapat mempercepat munculnya masalah keamanan dan risiko lainnya.

Nandini menekankan pentingnya membangun observability, data governance, dan mekanisme keamanan sejak tahap pengembangan aplikasi AI, bukan setelah sistem sudah digunakan. Ia juga menyatakan bahwa AI berkembang jauh lebih cepat dibanding siklus teknologi sebelumnya, sehingga pendekatan keamanan juga perlu disesuaikan agar tetap efektif. Dengan demikian, kecepatan tanpa kendali dapat meningkatkan risiko yang tidak perlu.

Meski mengingatkan pentingnya tata kelola AI, Nandini memuji keberanian perusahaan Indonesia dalam mengadopsi teknologi. Sektor yang sangat teregulasi seperti perbankan dan kesehatan di Indonesia dinilai sudah melangkah lebih cepat dibanding banyak negara lain. Namun, langkah selanjutnya bukan sekadar memperluas penggunaan AI, melainkan memastikan setiap implementasi didukung oleh strategi bisnis, tata kelola data, dan keamanan yang kuat agar manfaat AI dapat berkelanjutan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait