Bisakah Erupsi Gunung Api Direkayasa Manusia? Ini Kata Pakar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pakar mitigasi bencana Daryono membantah narasi yang mengaitkan erupsi gunung api di Indonesia dengan rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia. Menurutnya, erupsi adalah proses alamiah yang disebabkan oleh dinamika internal Bumi, khususnya gerak magma dari kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer. Energi yang menggerakkan aktivitas vulkanik berasal dari pelelehan batuan di mantel akibat tekanan dan suhu ekstrem, yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi manusia. Tekanan di kantong magma dapat mencapai ratusan megapascal, jauh melebihi kapasitas teknologi buatan untuk memengaruhi sistem magma. Indonesia berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire) akibat pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina, yang menyebabkan pelelehan batuan dan pembentukan magma dalam jangka panjang. Erupsi juga dapat dipantau melalui gempa vulkanik, deformasi dengan GPS dan tiltmeter, serta perubahan gas dan suhu sebelum terjadi. Proses akumulasi energi ini berlangsung dari bulan hingga bertahun-tahun, bukan melalui kontrol instan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 6 September 2026 pukul 11.23
Gunung Api Ili Lewotolok di NTT Meletus, Kolom Abu Setinggi 600 Meter
Detik.com · 8 September 2026 pukul 06.45
Apa Itu HAARP yang Ramai Dikaitkan dengan Erupsi Gunung?
kumparan · 7 September 2026 pukul 18.43
Abu Vulkanik Bisa Bikin Tanah Subur, Butuh Waktu Proses Pelapukan
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 18.40
Mbah Rono: Gunung Anak Krakatau Secara Alamiah Masih Bisa Erupsi Lagi
Berita terkait
FOTO: Penampakan Citra Satelit-Drone saat Gunung Anak Krakatau Erupsi
CNN Indonesia · 7 September 2026 pukul 19.06
Bukan Anak Krakatau, Ini Erupsi Gunung Terbanyak dalam 100 Hari di RI
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 16.25
28 Insiden Gunung Meletus Dalam 24 Jam Terakhir, Cek Daftar Lengkapnya
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.50
Sejumlah Gunung Api Erupsi Bersamaan, Pakar ITS Ungkap Fakta Penting
JPNN.com · 7 September 2026 pukul 15.03