Dampak AI, Paksa Jutaan Warga AS Banting Setir Pekerjaan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335452/original/023675900_1787985545-AI.jpg)
Riset McKinsey & Co memperkirakan sekitar 11 juta pekerja AS, atau 6,5 persen dari total angkatan kerja, harus beralih ke pekerjaan yang sama sekali berbeda pada 2035 akibat otomatisasi dan adopsi kecerdasan buatan (AI). Laporan McKinsey Global Institute menunjukkan AI dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja dibandingkan yang hilang dalam sembilan tahun ke depan. Namun, otomatisasi diperkirakan mengurangi kebutuhan tenaga kerja hingga 36 juta pekerjaan, sementara pertumbuhan di bidang terkait AI dan perekonomian secara lebih luas dapat menciptakan kebutuhan akan 40 juta pekerjaan. Dari 36 juta pekerja yang terdampak, sekitar 25 jilonya masih bisa bertahan di bidang pekerjaan saat ini karena pertumbuhan industri yang menyeimbangkan dampak otomatisasi. Sisa 11 juta pekerja lainnya mungkin perlu beralih sepenuhnya ke jenis pekerjaan yang berbeda. Tantangan utama yang dihadapi adalah mobilitas tenaga kerja, bukan kelangkaan lapangan pekerjaan.
Pasar tenaga kerja AS juga sedang mengalami transformasi akibat generasi Baby Boomers yang pensiun, imigrasi yang melambat, dan guncangan eksternal. Dua tahun terakhir pasar kerja berada dalam kondisi 'low-hire, low-fire', di mana perekrutan dan pemutusan hubungan kerja rendah, menciptakan perputasi tenaga kerja yang lesu. Data Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan penurunan lowongan pekerjaan ke level terendah dalam lima bulan pada akhir Agustus, sementara tingkat pengunduran sukarela tetap rendah. Pertumbuhan lapangan kerja tahun lalu lemah, namun tahun ini mulai membaik dengan rata-rata penambahan 80.000 pekerjaan per bulan, masih di bawah rata-rata historis.
Ketidakpastian ini memicu penurunan indeks percaya diri karyawan Glassdoor ke level terendah dalam tiga tahun, sekaligus menurunkan indeks rasa percaya diri konsumen ke angka terendah dalam 12 tahun. Survei The Conference Board menunjukkan penurunan 6,7 poin ke 81,9 akibat kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian perang di Iran serta hubungan perdagangan global. Survei University of Michigan juga mencatat penurunan 7% dalam sentimen konsumen dari Agustus hingga September, mencapai level terendah kedua dalam sejarah.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 29 September 2026 pukul 16.10
Tanda Otak Manusia Makin Tumpul, Ilmuwan Bunyikan Alarm Bahaya
Berita terkait
Ramai-Ramai Bakar Uang Buat AI, Dampaknya Mengerikan
CNBC Indonesia · 26 September 2026 pukul 09.40
Pendidikan Vokasi Garda Terdepan Hasilkan Riset dan Inovasi
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.04
Ini Pandangan Bos-Bos Perusahaan Besar Soal Ancaman AI
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 19.20
Ledakan AI Bikin AS Ketar-ketir, Harus Siapkan US$110 Miliar untuk Kejar Listrik
Warta Ekonomi · 17 September 2026 pukul 19.07