Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Deretan Ancaman Keamanan Baru Berbasis AI: Makin Pintar dan Ngeri

Perusahaan di Asia Pasifik semakin cepat mengadopsi AI tidak hanya untuk eksperimen, tetapi juga untuk operasional produksi. Namun, hal ini membawa risiko keamanan siber yang lebih kompleks. Reuben Koh dari Akamai menjelaskan bahwa AI bukan sekadar aplikasi, tetapi ekosistem luas yang melibatkan software, hardware, data, dan identitas manusia, sehingga penilaian risikonya jauh lebih rumit dibandingkan teknologi sebelumnya. Reuben mengidentifikasi empat area kerentanan utama dalam ekosistem AI perusahaan. Risiko meningkat secara signifikan ketika pengguna memberi instruksi kepada AI untuk bertindak, bukan hanya bertanya. Misalnya, jika AI hanya memberi saran saham, dampaknya terbatas, tetapi jika AI diizinkan melakukan transaksi otomatis dan terjadi kesalahan, kerugian finansial bisa sangat besar. Fenomena Shadow AI juga menjadi ancaman serius, di mana karyawan menggunakan alat AI eksternal yang tidak disetujui perusahaan, seperti mengunggah kode sumber rahasia ke ChatGPT atau memasukkan data klien ke AI publik. Untuk menjawab tantangan ini, Akamai mengakuisisi LayerX dan menggabungkannya sebagai Workforce Protector, solusi yang membantu perusahaan mengontrol penggunaan AI oleh karyawan tanpa harus memblokirnya sepenuhnya. Reuben menekankan bahwa tidak ada solusi tunggal yang bisa mengamankan seluruh ekosistem AI, sehingga pendekatan defense in depth diperlukan. Akamai memanfaatkan jaringan edge-nya yang memantau lebih dari 30% lalu lintas internet global untuk mengumpulkan data serangan harian hingga dua terabyte, yang kemudian dianalisis menjadi intelligence ancaman untuk sistem perlindungan DDoS, WAF, bot, dan AI. Ia juga memperingatkan agar keamanan dirancang sejak awal dalam pengembangan AI, bukan ditambahkan belakangan.

Berita terkait