Derita Astronaut Susah Buang Air Besar, Ahli Cari Jalan Keluarnya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Para peneliti dari Universitas Kopenhagen dan NASA menganalisis 488 sampel plasma dari 52 astronaut yang tinggal di ISS selama misi dua hingga sembilan bulan (2006-2018). Studi menggunakan teknik metabolomik untuk mengukur perubahan molekul kecil dalam darah sebelum, selama, dan setelah misi luar angkasa. Hasilnya menunjukkan bahwa mikrogravitasi melambatkan pergerakan makanan melalui usus, sehingga bakteri usus beralih ke memecah protein lebih banyak daripada karbohidrat. Perubahan ini terlihat sejak beberapa minggu pertama di luar angkasa dan berlanjut hingga kembali ke Bumi. Total 40 senyawa metabolit berubah selama penerbangan, termasuk metabolit dari fermentasi protein oleh bakteri usus besar. Fenomena ini diyakini menjadi penyebab utama sembelit pada astronaut, yang tidak hanya dipengaruhi oleh diet tetapi juga oleh kurangnya gravitasi di luar angkasa. Temuan ini penting karena para astronaut semakin lama berada di luar angkasa, dan sembelit dapat berdampak pada kesehatan lainnya. Solusi yang sederhana diusulkan adalah meningkatkan asupan serat dan karbohidrat yang difermentasi secara lambat agar bakteri usus memiliki bahan baku yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan pada fermentasi protein.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
kumparan · 26 Agustus 2026 pukul 13.14
Astronaut Bisa Kena Sembelit di Luar Angkasa, Sistem Pencernaan Kacau Balau
Berita terkait
Ternyata Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa, Ini Alasannya
CNN Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 17.20
Mengapa Astronot Sulit BAB di Luar Angkasa? Ilmuwan Temukan Jawabannya!
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 13.00
3 Makanan Pemicu Sembelit yang Wajib Anda Ketahui
JPNN.com · 22 Agustus 2026 pukul 06.18
Rusia Siap Bantu Indonesia Kirim Astronaut ke Antariksa
VOI · 16 Agustus 2026 pukul 08.06