Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Kebiasaan Buang Makanan Bikin Bumi Panas, Ini Bahaya Metana dari Sampah

Limbah makanan yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menghasilkan metana, gas rumah kaca yang 86 kali lebih kuat daripada CO2 dalam jangka 20 tahun. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengungkapkan lebih dari 1 miliar porsi makanan tidak dimakan setiap hari, dengan 60% berasal dari rumah tangga. Limbah makanan bertanggung jawab atas hingga 10% total emisi gas rumah kaca global, jauh melebihi emisi sektor penerbangan. Proses pembusukan di TPA dalam kondisi minim oksigen menghasilkan metana yang signifikan, sehingga UNEP menyarankan pencegahan limbah makanan sejak awal sebagai solusi iklim yang segera dan hemat biaya. Program Food Waste Breakthrough menargetkan pengurangan limbah makanan hingga 50% pada 2030, yang dapat mengurangi emisi metana hingga 7%. Upaya ini melibatkan pemerintah, restoran, supermarket, dan produsen makanan untuk mendistribusikan makanan layak konsumsi dan meningkatkan sistem penyimpanan stok. Di Brasil, kebijakan pengurangan limbah sebelum makanan mencapai TPA telah diterapkan, sementara penggunaan black soldier fly juga dikembangkan di Uganda dan Malawi untuk mengubah limbah organik menjadi pakan tinggi protein. Pemisahan sampah organik dan komposisi juga penting untuk mengurangi metana, karena penguraian dalam kondisi aerob menghasilkan CO2 yang jauh lebih rendah dampaknya dibandingkan metana. PBB menetapkan 29 September sebagai Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan, dengan lebih dari 60 negara berkomitmen memangkas emisi metana dari sektor sampah 30-35% pada 2030.

Berita terkait