Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

<i>Factory Reset</i> Ponsel di Bandara, Malah Dibawa ke Pengadilan

Pemerintah AS menuntut Sam Tunick karena diduga sengaja memberikan kata sandi darurat yang menghapus seluruh data ponselnya saat disita petugas di Bandara Hartsfield-Jackson, Atlanta, pada 24 Januari 2025. Awalnya Tunick ditahan untuk interogasi terkait dugaan gambar eksploitasi anak, namun pengacara menilai tuduhan itu dalih untuk menyelidiki hubungannya dengan gerakan Stop Cop City. Pemerintah menggunakan undang-undang yang jarang dipakai yang mengkriminalisasi penghancuran properti untuk mencegah penyitaan. Tunick disebut memanfaatkan fitur GrapheneOS yang memicu penghapusan data saat sandi darurat dimasukkan.

Pembela berargumen penahanan dan penyitaan ilegal karena petugas tidak memberikan akses pengacara, tidak menunjukkan surat perintah, dan tidak memberitahu hak hukum. Pemerintah berdalih tidak wajib menunjukkan surat perintah karena Tunick belum resmi diizinkan masuk AS. Kasus ini memicu reaksi aktivis hak digital, seperti Marlon Kautz dari Atlanta Solidarity Fund, yang menegaskan hak mengamankan data dari penggeledahan inkonstitusional. Di bawah pemerintahan Trump, proses masuk AS semakin ketat, bahkan warga AS bisa ditahan berjam-jam dan diperiksa akun media sosial. Banyak pihak menganggap menghapus data sebagai cara paling aman melindungi privasi dari pemeriksaan sepihak.

Berita terkait