4 Alasan PM Netanyahu Deklarasikan Tepi Barat sebagai Wilayah Israel, Provokasi Pakta Mekkah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pemerintahannya akan terus memperluas permukiman Yahudi di Tepi Barat sebagai persiapan untuk gelombang imigrasi Yahudi yang disebutnya "Aliyah besar-besaran". Dalam acara yang diselenggarakan oleh Dewan Regional Binyamin, Netanyahu menekankan klaim atas tanah itu dan membuka pintu bagi setiap warga Yahudi untuk tinggal di wilayah yang dianggap ilegal oleh PBB dan melanggar Konvensi Jenewa menurut Mahkamah Pidana Internasional.
Meskipun Netanyahu memprediksi kedatangan besar-besaran warga Yahudi, data yang belum diverifikasi menunjukkan lebih dari 150.000 warga Israel telah meninggalkan negara antara 2024 dan 2025, sebagian akibat ketegangan pasca-serangan Hamas pada 2023 dan perang di Gaza. Pemerintahannya juga baru-baru ini membuka tender untuk pembangunan lebih dari 1.200 unit rumah di proyek E1, sebagian dari total 3.400 unit yang disetujui tahun sebelumnya.
Netanyahu juga membanggakan pendirian dan legalisasi 104 permukiman serta 160 kawasan pertanian di Tepi Barat, sebagian dari tanah Palestina yang diklaim sebagai milik Israel. Pernyataannya mencerminkan kebijakan ekspansi yang diperketat meski menghadapi kecaman internasional, termasuk dari negara-negara Arab dan mitra Barat.
Bagikan
Berita terkait
Kontroversi Alex Karp, Bos Teknologi Paling Tak Dipercaya Anak Muda
Detik.com · 19 Agustus 2026 pukul 05.45
Menantu Trump Desak Netanyahu Hormati Kesepakatan Gaza
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 13.20
Seperti Wapres AS, Netanyahu Sindir Inggris sebagai 'Republik Islam'
Warta Ekonomi · 14 Agustus 2026 pukul 23.14
Netanyahu Tolak Kesepakatan Gaza, Ogah Setop Serangan-Tarik Pasukan
Detik.com · 4 Agustus 2026 pukul 17.42