AEER: Aktivitas Industri dan Penggunaan Batu Bara Picu Pencemaran Udara di Cilegon
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Penelitian Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) pada Agustus–September 2023 menunjukkan aktivitas industri yang bergantung pada batu bara menjadi sumber utama pencemaran udara di Kota Cilegon, Banten. Sektor baja, terutama PT Krakatau Posco yang menggunakan teknologi Blast Furnace–Basic Oxygen Furnace (BF–BOF), menyumbang emisi besar: rata-rata 2,2 ton CO₂e per ton baja, empat kali lipat teknologi Electric Arc Furnace. AEER memperkirakan 60 industri menengah dan besar melepaskan partikulat setara 700 karung beras 50 kg per tahun. Partikulat mengandung silika dan logam berat yang berpotensi mencemari tanah dan air tanah. Data puskesmas dan survei 94 warga Kelurahan Tegal Ratu (≈12 ribu penduduk) mencatat keluhan ISPA, stroke, batuk kronis, dan sesak napas; konsentrasi PM₂.₅ di beberapa titik melebihi baku mutu Korea Selatan. AEER mendorong peta jalan transisi energi yang jelas dengan target pengurangan emisi terukur, melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat agar pengurangan pencemaran berjalan beriringan dengan keandalan pasokan energi dan keadilan bagi pekerja serta warga terdampak.
Bagikan
Berita terkait
Ambisi RI Miliki 100 GW PLTS dan Keluar dari Batu Bara, Realistis?
CNBC Indonesia · 15 September 2026 pukul 12.15
Kementerian ESDM Prediksi Permintaan Batu Bara Global Turun dalam 5 Tahun
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 22.17
Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri
Detik.com · 21 Agustus 2026 pukul 12.39
Satu-satunya di Kabinet, Bahlil Lahadalia Rangkap Jabatan Menko Hilirisasi Sekaligus Menteri ESDM
Warta Ekonomi · 2 Oktober 2026 pukul 02.58